suka suka
Rabu, 05 Oktober 2011
Kunir atau kunyit (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.)
termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika.
Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia.
Kunyit sering digunakan dalam masakan sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan.
Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis- rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil butason dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul.
Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon 90. Penggunaan : Umbi akar yang berumur lebih dari satu tahun dipakai sebagai ubat (umbi akar bersifat mendinginkan, membersihkan, mempengaruhi bagian perut Khususnya pada lambung , merangsang, melepaskan lebihan gas di usus, menghentikan pendarahan dan mencegah penggumpalan darah) selain dari itu juga digunakan sebagai bahan dalam masakan. Kunyit juga digunakan sebagai obat anti gatal dan anti kejang serta mengurangi pembengkakan selaput lendir mulut. Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang disebut filtrat, juga diminum sebagai ekstrak atau diguna sebagai salap untuk mengubati bengkak. Kunyit juga berkhasiat untuk menyembuhkan hidung yang tersumbat, caranya dengan membakar kunyit dan menghirupnya
Kunyit bisa dipakai untuk menyembuhkan beberapa hal yang berkaitan dengan penyimpangan pada kerja ginjal, terutama pada bebrapa kasus-kasus yang ditandai dengan bau badan yang tidak sedap dan mata yang tidak tahan terhadap sinar, penggunaan kunyit adalah sangat effektif, yaitu dengan meminum segelas juice kunyit (dibuang ampasnya), selama 2 minggu berturut-turut.
Cara sederhana adalah:
1.Ambil segenggam kunyit, lalu kupas.
2.Parut atau juice dengan blender (biasa ditambahkan air secukupnya)
3.Didihkan 2-3 kali (biasa ditandai dengan pemuaian)
4.Tambahkan garam sedikit (seujung sendok)
5.Saring/Peras
6.Tuangkan perasan jeruk nipis (1 - 3 biji, sesuai selera)
7.Tambahkan gula atau madu
8.Minum (lebih baik dalam keadaan hangat)
Sebaiknya tidak minum selepas jam 5 sore.
Ini juga sangat effektif untuk menyembuhkan flu/demam pada ibu-ibu yang hamil (tidak perlu dilakukan setiap hari; biasanya 1-2 hari sudah bisa sembuh), sehingga terhindar dari penggunaan obat-obatan kimia yang bisa berbahaya terhadap janin yang dikandungnya.
Bila dikonsumsi oleh para ibu hamil, dipercaya bayi yang lahir akan bersih dari lemak-lemak yang seringkali menempel/menutupi seluruh badan bayi.
Penggunaan kunyit instant, sebaiknya tidak dilakukan untuk pengobatan (khususnya untuk ibu-ibu hamil), karena ada kandungan-kandungan lain yang mungkin bisa berbahaya bagi kandungan.
Minggu, 28 Agustus 2011
.Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada
saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Makanan khas yang menggunakan
ketupat, antara lain kupat tahu (Sunda), Grabag (kabupaten Magelang), kupat glabet (Kota Tegal), coto makassar (dari Makassar, ketupat dinamakan burasa), lotek, serta gado-gado (seringkali diganti dengan lontong). Ketupat juga dapat dihidangkan menyertai sate, meskipun lontong lebih umum. Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat namun dengan pola anyaman berbeda.[1] Ada dua bentuk utama ketupat yaitu
kepal (lebih umum) dan jajaran genjang.
Masing-masing bentuk memiliki alur
anyaman yang berbeda. Untuk
membuat ketupat perlu dipilih janur
yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Penggunaan lain Di antara beberapa kalangan di pulau Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam
jimat. Masyarakat di daerah tersebut
masih memegang tradisi untuk tidak membuat ketupat di hari biasa, sehingga
ketupat hanya disajikan sewaktu
lebaran dan hingga sepekan
sesudahnya. Bahkan ada beberapa
daerah di pulau Jawa yang hanya
menyajikan ketupat di hari ketujuh sesudah lebaran saja atau biasa disebut
dengan Hari Raya Ketupat. Di pulau Bali, ketupat (di sana disebut kipat) sering
dipersembahkan sebagai sesajian upacara.
Di kutip dari wikipedia
saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Makanan khas yang menggunakan
ketupat, antara lain kupat tahu (Sunda), Grabag (kabupaten Magelang), kupat glabet (Kota Tegal), coto makassar (dari Makassar, ketupat dinamakan burasa), lotek, serta gado-gado (seringkali diganti dengan lontong). Ketupat juga dapat dihidangkan menyertai sate, meskipun lontong lebih umum. Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat namun dengan pola anyaman berbeda.[1] Ada dua bentuk utama ketupat yaitu
kepal (lebih umum) dan jajaran genjang.
Masing-masing bentuk memiliki alur
anyaman yang berbeda. Untuk
membuat ketupat perlu dipilih janur
yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Penggunaan lain Di antara beberapa kalangan di pulau Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam
jimat. Masyarakat di daerah tersebut
masih memegang tradisi untuk tidak membuat ketupat di hari biasa, sehingga
ketupat hanya disajikan sewaktu
lebaran dan hingga sepekan
sesudahnya. Bahkan ada beberapa
daerah di pulau Jawa yang hanya
menyajikan ketupat di hari ketujuh sesudah lebaran saja atau biasa disebut
dengan Hari Raya Ketupat. Di pulau Bali, ketupat (di sana disebut kipat) sering
dipersembahkan sebagai sesajian upacara.
Di kutip dari wikipedia
Selasa, 11 Januari 2011
E-dukasi.net; Belajar lebih mudah dan menyenangkan
Satu lagi website pembelajaran yang sangat menarik saya temukan, E-dukasi.net. Dalam website ini saya temukan banyak materi pembelajaran yang interaktif, sehingga sangat menarik bila dipergunakan untuk media pembelajaran dikelas. Media pembelajaran yang dibuat dengan flash ini, menjadi lebih mantap karena telah dilengkapi dengan soal-soal latihan dan simulasi materi, sehingga dengan membuka satu materi saja, kita sudah bisa mendapatkan berbagai macam revenue.
Namun sepertinya tidak semua materi pelajaran tersedia diwebsite ini, beberapa materi pelajaran telah tersedia sesuai dengan jenjangnya, mulai dari SMP, SMA sampai SMK. Tetapi setidaknya admin website ini pasti telah merencanakan pengembangan kontent situsnya dengan menambahkan beberapa materi yang belum tersedia.
Selain materi utama, kita juga bisa menemukan materi penunjangnya, semisal diwebsite ini juga tersedia Video on Demand, yang sepertinya direkam dari siaran TVE. Selain itu tersedia juga beberapa fasilitas lain seperti tempat untuk berdiskusi, dan bahkan MGMP online.
Materi-materi tersebut dapat kita buka secara online, namun bisa juga kita download. AGar kita bisa mendownload, sebelumnya kita diharuskan menjadi member website ini, dengan melakukan pendaftaran secara gratis. Sampai saat artikel ini ditulis, setidaknya 170ribuan member telah terdaftar.
Namun sepertinya tidak semua materi pelajaran tersedia diwebsite ini, beberapa materi pelajaran telah tersedia sesuai dengan jenjangnya, mulai dari SMP, SMA sampai SMK. Tetapi setidaknya admin website ini pasti telah merencanakan pengembangan kontent situsnya dengan menambahkan beberapa materi yang belum tersedia.
Selain materi utama, kita juga bisa menemukan materi penunjangnya, semisal diwebsite ini juga tersedia Video on Demand, yang sepertinya direkam dari siaran TVE. Selain itu tersedia juga beberapa fasilitas lain seperti tempat untuk berdiskusi, dan bahkan MGMP online.
Materi-materi tersebut dapat kita buka secara online, namun bisa juga kita download. AGar kita bisa mendownload, sebelumnya kita diharuskan menjadi member website ini, dengan melakukan pendaftaran secara gratis. Sampai saat artikel ini ditulis, setidaknya 170ribuan member telah terdaftar.
Sabtu, 06 Maret 2010
Kisah Islami [ Ketika Ramadhan Tiba ]
Tidak terasa bulan Ramadhan sudah bergulir sepuluh hari.
"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.
"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.
Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga.
Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.
"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.
'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku.
Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya.
"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan' Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya.
Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas......
****
Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.
Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi.
****
Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis.
Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.
Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran.
Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata.
Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi.
****
Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin.
Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya. (wi)
Posted by gdz at 11:46 PM
"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.
"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.
Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga.
Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.
"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.
'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku.
Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya.
"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan' Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya.
Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas......
****
Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.
Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi.
****
Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis.
Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.
Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran.
Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata.
Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi.
****
Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin.
Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya. (wi)
Posted by gdz at 11:46 PM
[Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan
Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.
***
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
